Memaknai 'Kangkang Style'

SETIAP peraturan yang dibuat tentu ada maksud dan tujuan tersendiri bagi si pembuat kebijakan. Larangan untuk duduk mengangkang saat berboncengan mungkin juga untuk menghormati kaum hawa. Perempuan sebagai perhiasan dunia sudah mesti dijaga kehormatannya. Kebijakan yang dikeluarkan oleh Suaidi Yahya, Walikota Lhokseumawe, tak berselang jauh dengan tragedi yang bergejolak di India. 

Memaknai 'Kangkang Style' - Serambi Indonesia

'Kangkang Style' Mengapa Dilarang

SEJUMLAH kebijakan pemerintah di Aceh kerap menarik perhatian dan mengundang sorotan masyarakat, baik di level lokal, nasional, bahkan dunia internasional. Setelah kebijakan wajib mengenakan rok bagi perempuan, yang digagas dan diberlakukan oleh Pemkab Aceh Barat, tahun lalu. Belum lama ini, Pemko Lhokseumawe juga mengeluarkan satu aturan yang sasarannya lagi-lagi ditujukan untuk perempuan, yakni tidak boleh duduk mengangkang (kangkang style) atau duek pheng di atas sepeda motor. Mengapa?

'Kangkang Style' Mengapa Dilarang - Serambi Indonesia

BAGAIMANA PACARAN MENURUT ISLAM ?

Oleh:  Tgk. Syaikhuna Tabrani. ZA Al-Asyhi
Bagaimana pandangan Ibnu Qoyyim tentang hal ini ? Kata Ibnu Qoyyim: “hubungan intim tanpa pernikahan adalah haram dan merusak cinta. Malah, cinta di antara keduanya akan berakhir dengan sikap saling membenci dan bermusuhan. Karena bila keduanya telah merasakan kenikmatan dan cita rasa cinta, tidak boleh tidak akan timbul keinginan lain yang tidak diperoleh sebelumnya”.
“Bohong”! Itulah pandangan mereka guna membela hawa nafsunya yang dimurkai Allah, yakni berpacaran. Karena mereka telah tersosialisasi dengan keadaan seperti ini, seolah-olah mengharuskan adanya pacaran dengan bercintaan secara haram. Bahkan lebih dari itu mereka berani mengikrarkan, bahwa cinta yang dilahirkan bersama dengan sang pacar adalah cinta suci dan bukan cinta birahi.
Hal ini didengung-dengungkan, dipublikasikan dalam segala bentuk media, entah cetak maupun elektronika. Entah yang legal maupun ilegal. Padahal yang diistilahkan kesucian dalam Islam adalah bukanlah semata-mata kepemudaan, kegadisan dan selaput dara saja. Lebih dari itu, kesucian mata, telinga, hidung, tangan dan sekujur anggota tubuh, bahkan kesucian hati wajib dijaga. Zinanya mata adalah berpandangan dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya, zinanya hati adalah membayangkan dan mengkhayal, zinanya tangan adalah menyentuh tubuh wanita yang bukan muhrim. Dan pacaran adalah refleksi hubungan intim, dan merupakan ring empuk untuk memberi kesempatan terjadinya segala macam zina ini.
Rasulullah bersabda,
"Telah tertulis atas anak Adam nasibnya dari hal zina. Akan bertemu dalam hidupnya, tak dapat tidak. Zinanya mata adalah melihat, zina telinga adalah mendengar, zina lidah adalah berkata, zina tangan adalah menyentuh, zina kaki adalah berjalan, zina hati adalah ingin dan berangan-angan. Dibenarkan hal ini oleh kelaminnya atau didustakannya".
Jika kita sejenak mau introspeksi diri dan mengkaji hadits ini dengan kepala dingin maka dapat dipastikan bahwa segala macam bentuk zina terjadi karena motivasi yang tinggi dari rasa tak pernah puas sebagai watak khas makhluk yang bernama manusia. Dan kapan saja, di mana saja, perasaan tak pernah puas itu selalu memegang peranan. Seperti halnya dalam berpacaran ini? Pacaran adalah sebuah proses ketidakpuasan yang terus berlanjut untuk sebuah pembuktian cinta. Kita lihat secara umum tahapan dalam pacaran.
Perjumpaan pertama, yaitu perjumpaan keduanya yang belum saling kenal. Kemudian berkenalan baik melalui perantara teman atau inisiatif sendiri. Hasrat ingin berkenalan ini begitu menggebu karena dirasakan ada sifat-sifat yang menjadi sebab keduanya merasakan getaran yang lain dalam dada. Hubungan pun berlanjut, penilaian terhadap sang kenalan terasa begitu maniiiis....??? Pertama ia nilai dengan daya tarik fisik dan penampilannya, mata sebagai juri. Senyum pun mengiringi, kemudian tertegun akhirnya, akhirnya jantung berdebar, dan hati rindu menggelora. Pertanyaan yang timbul kemudian adalah kata-kata pujian, kemudian ia tuliskan dalam buku diary, “Akankah ia mencintaiku”? Bila bertemu ia akan pandang berlama-lama, ia akan puaskan rasa rindu dalam dadanya.
Pengungkapan diri dan pertalian, di sinilah tahap ucapan I Love You, “Aku mencintaimu”. Si Romeo sebagai penjual akan menawarkan cintanya dengan rasa malu, dan sang Juliet akan membelinya dengan, “I Love You”. Jika Juliet diam dengan tersipu dan tertunduk malu, maka sang Romeo pun telah cukup mengerti dengan sikap itu. Kesepakatan pun dibuat, ada ijin sang Juliet untuk datang ke rumah, "Apel Mingguan atau Wakuncar ". Kapan pun sang Romeo pengin datang maka pintu pun terbuka dan di sinilah mereka akan menumpahkan perasaan masing-masing, persoalanmu menjadi persoalannya, sedihmu menjadi sedihnya, sukamu menjadi riangnya, hatimu menjadi hatinya, bahkan jiwamu menjadi hidupnya. Sepakat pengin terus bersama, berjanji sehidup semati, berjanji sampai rumah tangga. Asyik dan syahdu.
Inilah sebuah pengungkapan diri, rasa cinta yang menggelora pada sang kekasih seakan tak mampu untuk menolak ajakan sang kekasih. “Sayang kamu bener-benerkan cinta padaku? Kalau kamu bener-bener cinta padaku buktikan cintamu sayangku”. Hal ini menjadikan perasaan masing-masing saling ketergantungan untuk memenuhi kebutuhan di antara keduanya. Bila sudah seperti ini ajakan ciuman bahkan bersenggama pun sulit untuk ditolak. Na'udzubillah...!!!
Begitulah akhirnya mereka berdua telah terjerumus dalam nafsu syahwat, tali-tali iblis telah mengikat. Mereka jadi terbiasa jalan berdua bergandengan tangan, canda gurau dengan cubit sayang, senyum tawa sambil bergelayutan, dan cium sayang melepas abang. Kunjungan kesatu, kedua, ketiga, keseratus, keseribu, dan yang tinggal sekarang adalah suasana usang, bosan, dan menjenuhkan percintaan. Segalanya telah diberikan sang Juliet, Juliet pun menuntut sang Romeo bertanggung jawab? Ternyata sang Romeo pergi tanpa pesan walaupun datang dengan kesan. Sungguh malang nasib Juliet. Inilah prinsip dari kebanyakan dari lelaki hidung belang yang selalu dalam mengait wanita, bahkan mereka tidak segan-segan menggunakan akad yang 6:
- Aku Lihat
- Aku Pikat
- Aku Dapat
- Aku Sikat
- Aku Minggat
- Aku Jahat/Bejat
Wahai para Muslimah sadarlah akan lamunan kalian, bayang-bayang cinta yang? suci, bukanlah dengan pacaran, cobalah pikirkan buat kamu Muslimah yang masih bergelimang dengan pacaran atau kalian wahai pemuda yang suka gonta-ganti pacar. Cobalah jawab dengan hati jujur pertanyaan-pertanyaan berikut dan renungkan ! Kami tanya :
Apakah kamu dapat berlaku jujur tentang hal adegan yang pernah kamu lakukan waktu pacaran dengan si A,B,C s/d Z kepada calon pasangan yang akan menjadi istri atau suami kamu yang sesungguhnya? Kalau tidak kenapa kamu berani mengatakan, pacaran merupakan suatu bentuk pengenalan kepribadian antara dua insan yang saling jatuh cinta dengan dilandasi sikap saling percaya? Sedangkan kenapa kepada calon pasangan hidup kamu yang sesungguhnya kamu berdusta? Bukankah sikap keterbukaan merupakan salah satu kunci terbinanya keluarga yang sakinah?
Mengapa kamu pusing tujuh keliling untuk memutuskan seseorang menjadi pendamping hidupmu? Apakah kamu takut mendapat pendamping yang setelah sekian kali pindah tangan? Kamu mengatakan:"Aku ingin calon pendamping yang baik-baik". Kamu katakan seperti ini tapi mengapa kamu begitu gemar pacaran, hingga melahirkan korban baru yang siap pindah tangan dengan kondisi "Aku bukan calon pendamping yang baik", bekas dari tanganmu, sungguh bekas tanganmu?
Jika kamu disuruh memilih di antara dua calon pasangan hidup kamu antara yang satu pernah pacaran dan yang satu begitu teguh memegang syari'at agama, yang mana yang akan kamu pilih? Tentu yang teguh dalam memegangi agama, ya kaaan...??? Tapi kenapa kamu berpacaran dengan yang lain sementara kamu menginginkan pendamping yang bersih ? Terus bagaimana perasaan kamu jika mengetahui istri/suami kamu sekarang punya nostalgia berpacaran yang sampai terjadi tidak suci lagi? Tentu kecewa bukan kepalang. Tetapi mengapa sekarang kamu melakukan itu kepada orang yang itu akan menjadi pendamping hidup orang lain? Kalaupun istri/suami kamu sekarang mau membuka mulut tentang nostalgia berpacaran sebelum menikah dengan kamu. Apakah kamu percaya jika dia bilang kala itu kami berdua hanya bicara biasa-biasa saja dan tidak saling bersentuhan tangan? Kalau tidak kenapa ketika pacaran bersentuhan tangan dan berciuman kamu bilang sebagai bumbu penyedap?
Jika kamu nantinya sudah punya anak apakah rela punya anak yang telah ternoda? Kalau tidak kenapa kamu tega menyeret ortu kamu ke dalam neraka Api Allah? Kamu tuntut mereka di hadapan Allah karena tidak melarang kamu berpacaran dan tidak menganjurkan kamu untuk segera menikah. Karena itu wahai muslimah dan kalian para pemuda kembalilah ke fitrah semula. Fitrah yang telah menjadi sunattullah, tidak satupun yang lari dari padanya melainkan akan binasa dan hancur.
Inti dari pembahasan ini adalah “PACARAN ITU HARAM"

PERSFEKTIF MAHASISWA DALAM PERANANNYA


Oleh: Dedi Muzlahinur* -

Mahasiswa adalah kaum terdidik dengan pola pikir intelektualnya, sehingga predikat kaum intelektual muda tidak tanggung – tanggung di sandang nya. Dengan kemampuan akademis sesuai bidang yang di tekuni nya masing – masing menjadikan mahasiswa sebagai figure yang potensial di lingkungan sosial nya. Bangsa kita sudah cukup sadar terhadap peran yang di mainkan mahasiswa dari dulu hingga sekarang. Sebagai kaum muda yang masih sangat agresif secara sosiologis dan fisiologis serta berkat ketajaman intelektualnya, sehingga banyak ide – ide pembaharu yang di peloporinya. Semenjak zaman perjuangan kemerdekaan, penumpasan G-S30 PKI, peruntuhan rezim Presiden soeharto dan tuntutan reformasi serta masa yang sekarang ini. Itu semua sudah membuat mahasiswa tidak asing lagi dari pahit getirnya perjalanan sejarah bangsa ini.

Karena dari dulu dan sekarang peran mahasiswa itu selalu pembawa aspirasi untuk umat dan bangsa ini maka mahasiswa di nobatkan sebagai Agen of change, Agen of Control social, Agen of modernization dan agen - agen lainnya. Tentu nya predikat itu bisa di sandang nya karena kemampuan dari segi peran, pergerakan. Pengorganisasian dan pendidikan yang dimilikinya. Dan itu semua tidak akan pernah terjadi kalau saja Dinamika dan budaya – budaya mahasiswa tidak pernah berlangsung dalam system kemahasiswaan itu sendiri. Sebagai upaya pertanggung jawaban akademis dan kecerdasan intelektualitas nya. Mahasiswa tidak diharapkan hanya menerima materi kuliah di kampus dan di bangku – bangku kuliah saja, akan tetapi karena budaya mahasiswa secara letak disertai kesadaran sudah tertanam dalam setiap pribadi nya sehingga memposisikan budaya membaca, berorganisasi, membentuk forum – forum diskusi, menampung aspirasi kewargaan baik warga kampus dalam skala kecil maupun warga negara secara umum, memperjuang kan nasib keummatan dan agama, berfikiran kritis, konstruktif, intelektif dan peran - peran potensial lain nya sebagai budaya yang tak terpisahkan dari pribadi mahasiswa.

Mahasiswa adalah kaum muda yang penuh dengan idealisme – idealisme terbaik sepanjang sejarah pendidikan Bangsa ini. Secara Rata – rata semua orang tidak akan membantah, Karena bukti - bukti yang telah lalu. Namun meskipun demikian masih saja kita melihat mahasiswa dewasa ini dilingkupi dengan berbagai kemunduran yang sangat berlawanan dari yang seharus nya di miliki mahasiswa, menggunakan kesempatan untuk mencari ilmu diluar dunia kampus seperti membaca, berkunjung kepustaka, berorganisasi dan masih banyak hal yang lain nya,terkadang tidak lagi menjadi sebuah budaya yang harus selalu dirawat pada sebagian mahasiswa, sehingga secara karakter mahasiswa- mahasiwa tersebut menderita penyakit apathis , hedonisme – materialistis , politik praktis yang malah menjadikan mahasiswa itu keluar dari kittah yang sebenar nya atau yang selama ini menjadi dinamika kental nya Ketajaman intelektual mahasiswa pun teruji.

Marak nya kampus – kampus perguruan Tinggi masuk ke daerah disertai semangat pendidikan yang dimiliki oleh pemuda – pemuda daerah mengharus kan mahasiswa menyadari bahwa memang sudah saat nya mahasiswa berorientasi ke daerah – daerah sehingga pemerataan pendidikan terjadi secara baik. Namun demikian, menjadi mahasiswa daerah bukan berarti kittah mahasiswa yang sesungguh nya harus kita kesampingkan atau kita hilangkan. Semangat membaca, semangat berorganisasi, semangat kritis – demokratik serta peran – peran potensial lain nya harus tetap ada pada setiap pribadi mahasiswa yang mengenyam pendidikan di daerah. meskipun kuliah di daerah, Mahasiswa dengan didasari keyakinan, keinginan dan kesadaran yang kuat akan mampu berwawasan nasional dan intenasional. Mari mencari tumpukan – tumpukan ilmu baik di dalam maupun di luar dunia kampus yang sangat luar biasa berserakan dan hanya kita yang akan memungut nya, serta mari tumbuhkan semangat berorganisasi gali potensi luar biasa yang ada pada diri kita,selalu rajin membaca, membuat forum – forum diskusi,forum – forum kajian. Sehingga dengan nya Agen ofchange, Agen of control social, Agen of modernization akan tetap terbina sejalan dengan realitas dan tuntutan kearifan Bangsa, Negara dan terutama sekali agama.

*Penulis adalah Mahasiswa Ekonomi - Manajemen (2009), Ketua Umum Komisariat Pers Serambi Mekkah, Blangpidie, Aceh Barat Daya

Keuleude Gulam Kitab

Oleh: Sudirman

Aceh sebagai masyarakat yang berbudaya memiliki cara-cara tersendiri dalam mengungkapkan ide-ide yang berkembang dalam masyarakatnya. Ide-ide itu diungkapkan dengan cara yang halus sehingga jika suatu ungkapan, baik berupa nasihat maupun teguran ditujukan kepada seseorang, biasanya orang yang dituju tidak merasa tersinggung. Dalam kesusastraan Aceh, ungkapan-ungkapan demikian dinamakan hadih maja.

Kandungan hadih maja, antara lain berkenaan dengan nilai budaya masyarakat Aceh dalam berpikir, bernalar, bertindak, dan berkomunikasi, baik secara vertikal maupun horizontal. Di antara ungkapan hadih maja adalah ungkapan, “Lagee keuleude gulam kitab (Seperti keledai memikul kitab).” Suatu perumpamaan kepada orang yang mempunyai ilmu, mengetahui, dan membawa kebenaran, tetapi tidak mengambil manfaat dari ilmu dan kebenaran yang diketahuinya.

Keuleude Gulam Kitab - Serambi Indonesia

Bahaya Wabah Nepotisme

 Oleh: Bisma Yadhi Putra

APA penyebab lahirnya nepotisme? Sudah jelas, rasa ikatan kekeluargaan dan kekerabatan yang terlalu mendalam lah yang menjadi penyebabnya. Nepotisme terjadi ketika seorang aparatur negara (birokrat) merekrut aparatur baru bukan berdasarkan nilai-nilai kualifikasi sosok yang hendak direkrut, melainkan berdasar pada ikatan keluarga dan kekerabatan. Implikasinya, birokrasi dijalankan oleh orang-orang yang tidak punya kecakapan mumpuni, yang kemudian melahirkan aneka permasalahan lainnya.

Bahaya Wabah Nepotisme - Serambi Indonesia