Kebahagiaan adalah Ketika Anda Mengalahkan Rintangan dan Menundukkan Kesulitan. Perihnya Kesukaran Tidaklah Sebanding dengan Lezatnya Kemenangan (Syaikhuna Tabrani. ZA Al-Asyhi)

Monday, September 24, 2012

PERSFEKTIF MAHASISWA DALAM PERANANNYA


Oleh: Dedi Muzlahinur* -

Mahasiswa adalah kaum terdidik dengan pola pikir intelektualnya, sehingga predikat kaum intelektual muda tidak tanggung – tanggung di sandang nya. Dengan kemampuan akademis sesuai bidang yang di tekuni nya masing – masing menjadikan mahasiswa sebagai figure yang potensial di lingkungan sosial nya. Bangsa kita sudah cukup sadar terhadap peran yang di mainkan mahasiswa dari dulu hingga sekarang. Sebagai kaum muda yang masih sangat agresif secara sosiologis dan fisiologis serta berkat ketajaman intelektualnya, sehingga banyak ide – ide pembaharu yang di peloporinya. Semenjak zaman perjuangan kemerdekaan, penumpasan G-S30 PKI, peruntuhan rezim Presiden soeharto dan tuntutan reformasi serta masa yang sekarang ini. Itu semua sudah membuat mahasiswa tidak asing lagi dari pahit getirnya perjalanan sejarah bangsa ini.

Karena dari dulu dan sekarang peran mahasiswa itu selalu pembawa aspirasi untuk umat dan bangsa ini maka mahasiswa di nobatkan sebagai Agen of change, Agen of Control social, Agen of modernization dan agen - agen lainnya. Tentu nya predikat itu bisa di sandang nya karena kemampuan dari segi peran, pergerakan. Pengorganisasian dan pendidikan yang dimilikinya. Dan itu semua tidak akan pernah terjadi kalau saja Dinamika dan budaya – budaya mahasiswa tidak pernah berlangsung dalam system kemahasiswaan itu sendiri. Sebagai upaya pertanggung jawaban akademis dan kecerdasan intelektualitas nya. Mahasiswa tidak diharapkan hanya menerima materi kuliah di kampus dan di bangku – bangku kuliah saja, akan tetapi karena budaya mahasiswa secara letak disertai kesadaran sudah tertanam dalam setiap pribadi nya sehingga memposisikan budaya membaca, berorganisasi, membentuk forum – forum diskusi, menampung aspirasi kewargaan baik warga kampus dalam skala kecil maupun warga negara secara umum, memperjuang kan nasib keummatan dan agama, berfikiran kritis, konstruktif, intelektif dan peran - peran potensial lain nya sebagai budaya yang tak terpisahkan dari pribadi mahasiswa.

Mahasiswa adalah kaum muda yang penuh dengan idealisme – idealisme terbaik sepanjang sejarah pendidikan Bangsa ini. Secara Rata – rata semua orang tidak akan membantah, Karena bukti - bukti yang telah lalu. Namun meskipun demikian masih saja kita melihat mahasiswa dewasa ini dilingkupi dengan berbagai kemunduran yang sangat berlawanan dari yang seharus nya di miliki mahasiswa, menggunakan kesempatan untuk mencari ilmu diluar dunia kampus seperti membaca, berkunjung kepustaka, berorganisasi dan masih banyak hal yang lain nya,terkadang tidak lagi menjadi sebuah budaya yang harus selalu dirawat pada sebagian mahasiswa, sehingga secara karakter mahasiswa- mahasiwa tersebut menderita penyakit apathis , hedonisme – materialistis , politik praktis yang malah menjadikan mahasiswa itu keluar dari kittah yang sebenar nya atau yang selama ini menjadi dinamika kental nya Ketajaman intelektual mahasiswa pun teruji.

Marak nya kampus – kampus perguruan Tinggi masuk ke daerah disertai semangat pendidikan yang dimiliki oleh pemuda – pemuda daerah mengharus kan mahasiswa menyadari bahwa memang sudah saat nya mahasiswa berorientasi ke daerah – daerah sehingga pemerataan pendidikan terjadi secara baik. Namun demikian, menjadi mahasiswa daerah bukan berarti kittah mahasiswa yang sesungguh nya harus kita kesampingkan atau kita hilangkan. Semangat membaca, semangat berorganisasi, semangat kritis – demokratik serta peran – peran potensial lain nya harus tetap ada pada setiap pribadi mahasiswa yang mengenyam pendidikan di daerah. meskipun kuliah di daerah, Mahasiswa dengan didasari keyakinan, keinginan dan kesadaran yang kuat akan mampu berwawasan nasional dan intenasional. Mari mencari tumpukan – tumpukan ilmu baik di dalam maupun di luar dunia kampus yang sangat luar biasa berserakan dan hanya kita yang akan memungut nya, serta mari tumbuhkan semangat berorganisasi gali potensi luar biasa yang ada pada diri kita,selalu rajin membaca, membuat forum – forum diskusi,forum – forum kajian. Sehingga dengan nya Agen ofchange, Agen of control social, Agen of modernization akan tetap terbina sejalan dengan realitas dan tuntutan kearifan Bangsa, Negara dan terutama sekali agama.

*Penulis adalah Mahasiswa Ekonomi - Manajemen (2009), Ketua Umum Komisariat Pers Serambi Mekkah, Blangpidie, Aceh Barat Daya

Keuleude Gulam Kitab

Oleh: Sudirman

Aceh sebagai masyarakat yang berbudaya memiliki cara-cara tersendiri dalam mengungkapkan ide-ide yang berkembang dalam masyarakatnya. Ide-ide itu diungkapkan dengan cara yang halus sehingga jika suatu ungkapan, baik berupa nasihat maupun teguran ditujukan kepada seseorang, biasanya orang yang dituju tidak merasa tersinggung. Dalam kesusastraan Aceh, ungkapan-ungkapan demikian dinamakan hadih maja.

Kandungan hadih maja, antara lain berkenaan dengan nilai budaya masyarakat Aceh dalam berpikir, bernalar, bertindak, dan berkomunikasi, baik secara vertikal maupun horizontal. Di antara ungkapan hadih maja adalah ungkapan, “Lagee keuleude gulam kitab (Seperti keledai memikul kitab).” Suatu perumpamaan kepada orang yang mempunyai ilmu, mengetahui, dan membawa kebenaran, tetapi tidak mengambil manfaat dari ilmu dan kebenaran yang diketahuinya.

Keuleude Gulam Kitab - Serambi Indonesia

Bahaya Wabah Nepotisme

 Oleh: Bisma Yadhi Putra

APA penyebab lahirnya nepotisme? Sudah jelas, rasa ikatan kekeluargaan dan kekerabatan yang terlalu mendalam lah yang menjadi penyebabnya. Nepotisme terjadi ketika seorang aparatur negara (birokrat) merekrut aparatur baru bukan berdasarkan nilai-nilai kualifikasi sosok yang hendak direkrut, melainkan berdasar pada ikatan keluarga dan kekerabatan. Implikasinya, birokrasi dijalankan oleh orang-orang yang tidak punya kecakapan mumpuni, yang kemudian melahirkan aneka permasalahan lainnya.

Bahaya Wabah Nepotisme - Serambi Indonesia

Be our fan on Facebook