Kebahagiaan adalah Ketika Anda Mengalahkan Rintangan dan Menundukkan Kesulitan. Perihnya Kesukaran Tidaklah Sebanding dengan Lezatnya Kemenangan (Syaikhuna Tabrani. ZA Al-Asyhi)

Tuesday, January 10, 2012

Monografi Politik

Oleh: Rahmat Fadhil -

DI TENGAH hiruk pikuknya pertentangan dua pihak antara yang pro melanjutkan pilkada di Aceh dan yang meminta penundaan sementara, sampai adanya qanun baru tentang pelaksaaan pilkada, Komisi Independen (KIP) Aceh terus dengan percaya diri melanjutkan tahapan pelaksanaan pilkada secara konsisten. Ini ditunjukkan dalam pekan lalu telah mengumumkan kepastian jadwal pencoblosan pada tanggal 16 Februari 2012.

Melihat tahapan yang semakin dekat dengan babak kampanye, penulis ingin sedikit memberikan elaborasi tentang bagaimana persiapan yang memadai dalam merebut hati pemilih sebelum masa pencoblosan itu tiba. Mengutip pernyataan Prof Dr Riswanda Himawan, seorang pakar ilmu politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM), yang menyatakan bahwa strategi jitu untuk merebut perhatian masyarakat sehingga menjatuhkan pilihannya kepada kandidat tertentu mestilah dilakukan sesegera dan sedini mungkin dalam setiap momentum dan kesempatan yang ada tanpa menunggu masa saat kampanye tiba. Dalam penelitiannya ia menyebutkan, masa kampanye hanyalah kesempatan kecil yang mampu melonjakkan perolehan suara pemilih sebesar 4 persen saja. Artinya kesempatan sebelum masa kampanye merupakan kesempatan strategis dan penting untuk secara gencar dan tersistematis melancarkan gerakan sosialisasi kandidat sehingga paling tidak setiap orang atau masyarakat, di mana mereka yang memiliki hak pilih yang akan memilih kandidat tersebut di sebuah kawasan, telah mengenal kandidat tersebut dan memiliki perhatian terhadap program maupun personalisasi kandidat itu.

Persoalan kemudian muncul, bagaimana mengetahui bahwa masyarakat tertarik pada satu kandidat atau bagaimana mengetahui sebab-sebab atau motivasi pilihan masyarakat sehingga menjatuhkan pilihannya pada suatu kandidat, sehingga menjadi modal informasi awal untuk memengaruhi kecenderungan pilihan para pemilih.

Di sinilah diperlukannya monografi politik (politics monograph). Monografi politik adalah seperangkat peta politik yang berupa data dan atau informasi berkaitan dengan preferensi (kecenderungan pilihan) politik para pemilih. Biasanya perangkat ini akan disediakan secara lengkap dengan menjadikan kelurahan atau desa sebagai basis terkecil analisis. Mungkin timbul pemikiran di benak kita semua mengapa perlunya monografi politik berbasis kelurahan atau desa untuk memenangkan pilkada yang sebentar lagi akan hadir di hadapan kita semua. Paling tidak ada beberapa analisis untuk menjawab ini.

Pertama, setiap kandidat mengharapkan merekalah yang paling populer dan strategis untuk dipilih masyarakat, hal ini sekaligus merepresentasikan kemestian bagi kandidat tersebut untuk merebut perhatian terbesar dari para pemilih di suatu kawasan.

Kedua, atas dasar pemahaman pentingnya mengetahui kecenderungan dan karakteristik pemilih di tingkat terkecil dalam komunitas masyarakat secara sistematis merupakan nilai berharga untuk menyusun arah strategi merebut hati sang pemilih. Seperti halnya bercinta dengan seorang kekasih, maka mengetahui apa yang disenangi dan disukai oleh kekasih kita adalah menjadi penting untuk tetap senantiasa membuatnya jatuh hati kepada kita. Sehingga ungkapan terlalu cinta menjadi motonya dalam keseharian.

Ketiga, data dan informasi pilihan politik masyarakat secara akurat dan terkini menjadi keharusan yang dimiliki oleh kandidat atau tim suksesnya. Seorang pakar manajemen menyatakan bahwa data merupakan 50 persen dari penyelesaian suatu masalah itu sendiri secara keseluruhan. Sehingga untuk memenangkan pilkada diperlukan data dan informasi secara akurat sebagai bagian kredit poin pemenangan seorang kandidat itu sendiri.

Keempat, mengingat persaingan antar-kandidat yang cukup ketat, bekerja berbasiskan data akan lebih terarah dan teroganisir secara matang, sehingga kerja-kerja berdasarkan perasaan dan perkiraan tim sukses tanpa data bukanlah zamannya lagi untuk bisa diandalkan.

Kelima, tujuan utama dari kampanye dalam pilkada adalah untuk menciptakan efek tertentu pada diri khalayak, sehingga identifikasi akurat terhadap karakteristik para pemilih perlu dilakukan. Hal ini dengan sendirinya akan mengarahkan program kampanye yang disusun dapat dipastikan menjangkau pemilih sasaran yang dituju. Karena setiap pemilih suatu kawasan memiliki kebutuhan yang tidak sama dengan kawasan lainnya. Dan Lebih dalam lagi, merestrukturisasi segmentasi pemilih ke dalam segmen-segmen yang relatif homogen akan semakin memudahkan materi dan saluran komunikasi yang akan digunakan kemudian. Menurut Nedra K. Weinrich, seorang pakar manajemen kampanye dari Universitas Harvard, menyatakan bahwa pelaksanaan program yang didasarkan pada perencanaan yang baik sebenarnya bukan saja memungkinkan anda mencapai orang-orang yang tepat dan tujuan yang diharapkan, tetapi lebih dari itu akan membuat anda dapat bertindak secara sistematis, terarah, dan antisipatif.

Keenam, lebih menghemat biaya untuk kampanye. Dengan mengetahui kecenderungan masyarakat, kebijakan menyalurkan dana secara berlebihan untuk program kampanye di suatu desa atau kelurahan akan lebih dapat dikurangi. Jadi dana yang tersedia tidak terbuang percuma untuk kampanye-kampanye yang tidak efektif dan malah mungkin hanya menguatkan dukungan bagi kandidat yang lainnya.

Ketujuh, monografi politik bersifat evaluatif, sehingga senantiasa waktu dapat di evaluasi sejauh mana proses, efek dan dampak yang terjadi selama masa waktu berjalannya masa pilkada, sejak masa sosialisasi, kampanye sampai saat pencoblosan. Karena sifatnya yang evaluatif inilah memungkinkan setiap saat arahan dan kebijakan pengintervensian terahadap sikap pilihan politik masyarakat dapat dilakukan oleh kandidat dan tim suksesnya. Inilah bagian yang sangat menarik dari monografi poltik itu sendiri, sehingga apa pun kondisi lapangan secara akurat akan mudah terdeteksi sejak dari awal. Sehingga jauh-jauh hari kita telah memiliki informasi tentang keadaan suatu daerah dan kecendrungan politik masyarakatnya di kawasan tersebut.

Oleh karena itu sesuai dengan tujuan monografi politik itu sendiri yaitu untuk mendapatkan data dan informasi sikap pilihan politik masyarakat secara akurat dan sebagai bahan persiapan yang lebih akseleratif bagi tim sukses atau kandidat, sehingga kesiapan akan langkah-langkah strategis terdepan jaringan mesin politik kandidatakan lebih baik lagi. Ini juga akan sangat bermanfaat untuk dapat digunakan terutama bagi penanganan basis dukungan, baik manfaatnya dalam jangka pendek berkaitan dengan pilkada atau setelahnya untuk kepentingan lain yang diharapkan. Tentu seorang kandidat sangat mengharapkan jatuh hatinya para pemilih terhadap kandidat tersebut lahir dari konsekuensi logis kepentingan yang lebih baik untuk membangun daerahnya itu, bukan karena sikap money politics (politik uang) atau janji-janji semu pemanis masa kampanye saja.

* Penulis adalah mantan Wakil Ketua Panwas Pilkada Aceh 2006. Dosen di Universitas Syiah Kuala.


Monografi Politik - Serambi Indonesia

Mobil Esemka dan DPRA

Oleh: Muhammad Taufik Hidayat -

BEBERAPA hari yang lalu negeri Indonesia tercinta ini berbangga hati dengan keberhasilan putra-putrinya memproduksi mobil yang komponennya 80 persen adalah buatan dalam negeri. Mobil jenis SUV berkapasitas 1500 cc itu dinamai dengan nama mobil Esemka, sebagai tanda bahwa dia lahir dari tangan siswa-siswa SMK.

Tak urung tokoh-tokoh politik nasional menyampaikan rasa bangganya dan ingin cepat-cepat memiliki mobil yang lahir dari tangan anak bangsa tersebut. Tercatat Walikota Solo, Joko Widodo langsung menggunakan mobil itu sebagai mobil dinasnya. Tak ketinggalan, tokoh nasional seperti Marzuki Alie dan Megawati juga tertarik untuk memilikinya.

Namun kebanggaan itu terasa hambar ketika membaca berita tentang impor SUV bekas melalui pelabuhan Malahayati Krueng Raya (Serambi, 4 Januari 2012). Sebanyak 48 unit SUV bekas dari Singapura rupanya telah dipesan oleh anggota dewan yang terhormat, untuk kebutuhan yang sangat mendesak. Sungguh suatu kondisi yang sangat bertolak belakang dan tentunya membuat muka kita merah. Ada apa gerangan dengan anggota dewan Aceh ini?

Ada teori ekonomi yang menyatakan bahwa motivasi seseorang membeli suatu barang terutama barang-barang kebutuhan sekunder dikarenakan orang lain menggunakan barang tersebut. Dalam konteks beli mobil, makanya kita mengenal mobil sejuta umat dimana semua orang membeli mobil merek yang sama. Tak mau ketinggalan mode, begitulah singkatnya. Agaknya anggota dewan kita tidak termasuk dalam kelompok ini.

Selain teori mengatakan bahwa seseorang membeli barang karena orang lain tidak memakai barang tersebut, alias dia ingin tampil beda. Dalam konteks mobil, tentulah orang ini enggan menggunakan mobil sejuta umat, mobil orang kebanyakan. Makanya dia membeli mobil jenis lain untuk membedakan antara dia dan orang kebanyakan.

Tentunya berharap ada perhatian lebih padanya dan ada citra yang lain yang diharapkan. Atau berharap statusnya naik satu derajat dari orang lain. Sepertinya anggota dewan di Aceh berpikir seperti ini. Walaupun banyak SUV yang beredar di pasar lokal, rasanya sudah terlalu biasa sehingga kalau pakai SUV lokal tak akan ada bedanya dengan masyrakat kebanyakan. Harus beda dong, anggota dewan!

Ada lagi teori yang mengatakan bahwa orang mengkonsumsi sesuatu untuk mempertahankan penerimaan kelompok atau lingkungannya.

Biasanya untuk bisa diterima di suatu kelompok sosial tertentu ada kualifikasi yang ditetapkan oleh kelompok tersebut seperti mobil jenis dan kelas tertentu. Jadi supaya bisa tetap dianggap bagian dari kelompok, anggota harus tetap memiliki mobil tertentu dengan kelas tertentu. Kalau tidak, pastilah dianggap “nggak level.”

Mungkin hal ini terjadi juga pada anggota dewan kita yang terhormat. Supaya bisa dianggap sejajar dengan kolega setingkat dengannya, maka harus punya mobil SUV import. Malu lah, masak pimpinan eksekutif punya mobil CBU import, anggota dewan cuma pakai mobil sejuta umat. Walaupun rasanya sama, tapi gengsinya tentu berbeda.

Lantas apa hubungannya dengan mobil Esemka? Mobil yang digadang-gadang menjadi cikal bakal mobil nasional ini tentunya menyimbolkan sesuatu. Salah satunya adalah menunjukkan kesederhanaan dan kerakyatan karena harganya yang murah dan hampir seluruhnya produksi dalam negeri. Walikota Solo, orang pertama yang menggunakan mobil Esemka untuk mobil dinas patut diacungi jempol bukan karena sensasinya tapi kemampuannya menunjukkan kepada rakyatnya bahwa dia tidak perlu sesuatu yang mewah-mewah seperti SUV mewah import untuk melayani rakyatnya. Dengan mobil 90 jutaan buatan lokal pun dia sudah bisa melayani rakyat. Selain itu, dia
juga menunjukkan dukungannya terhadap kreasi anak bangsa.

Mobil Esemka juga menunjukkan bahwa negeri kita ini punya marwah. Mampu berdiri dengan kaki sendiri dan tidak mesti selalu tergantung dan berbangga dengan hasil bikinan orang lain. Selama ini kita selalu didikte oleh orang luar dan malah bangga dengan hal itu.

Semua harus berbau-bau luar negeri. Mobil harus impor langsung dari luar atau CBU, completely built up. Walaupun masyarakat di kampung masih makan ubi. Adanya mobil Esemka ini marwah bangsa naik, kita bukan bangsa kelas teri yang hanya bisa jadi pengguna saja. Kita juga bangsa pencipta.

Sangat kontras dengan kondisi di Aceh. Di saat rakyat sedang galau dengan kondisi ekonomi, sosial dan keamaan. Di saat rakyat masih galau akan apa yang terjadi menjelang dan paska pilkada nanti.

Malah anggota dewan memamerkan mobil-mobil mewah impor, walaupun bekas, tetap saja mobil itu adalah mobil mewah. Tentunya ini sangat melukai perasaan rakyat. Alasan yang ditampilkan pun terkesan dibuat-buat. Sangat sederhana sekali alasannya, cuma karena anggota dewan sangat membutuhkannya.

Selama ini melalui berbagai proyek di Aceh kita selalu menggadang-gadangkan Aceh untuk mandiri bisa menghasilkan produk layak ekspor. Namun potret impor SUV bekas di Krueng Raya ini menunjukkan kebalikannya. Alih-alih mengekspor, malah barang impor yang masuk.

Saya sepakat kalau anggota dewan butuh mobil untuk operasional dan mobilisasinya. Namun kenapa harus mobil mewah? Tak cukupkah dengan mobil nasional atau mobil sejuta umat? Rakyat di bawah menangis memikirkan apa yang akan di makan esok hari, membutuhkan biaya berobat dan biaya anak sekolah. Mereka bersusah payah melewati jalanan becek untuk menjual hasil panen dan ikannya ke pasar, eh malah anggota dewan kebutuhannya adalah mobil mewah. Sungguh suatu situasi yang bertolak belakang.

Tak bisakah seorang anggota dewan naik mobil SUV nasional? Tolonglah bapak-bapak dan ibu-ibu dewan yang terhormat, jagalah amanat yang diberikan rakyat. Rakyat tak memberimu amanat untuk hidup bermewah-mewah. Berapa lagi anggaran yang dibutuhkan untuk pemeliharaan mobil-mobil tersebut. Mobil premium tentu biaya perawatannya premium. Tak sembarang begkel yang bisa melakukannya.

Rakyat masih butuh makan, biaya berobat dan biaya sekolah. Pakailah uang rakyat itu dengan bijaksana, jangan dihambur-hamburkan.

Akhirnya apa yang dicontohkan oleh Walikota Solo itu bukanlah mengajak bapak-ibu yang terhormat untuk membeli mobil Esemka. Tapi menunjukkan nilai-nilai luhur bahwa sebagai pemikul amanat rakyat yang selalu menunjukkan nilai-nilai kesederhanaan dan kedekatan dengan hati rakyat.

Mobil pun sudah dibeli, nasi pun sudah menjadi bubur. Jangan sampai bubur tersebut hanya dinikmati oleh kelompok tertentu saja. Jangan sampai ternyata di balik kaca-kaca gelap mobil-mobil mewah itu yang menikmati adalah istri, keluarga, dan kroni-kroninya. Atau mobil itu lebih banyak di luar provinsi menjadi mobil siluman berganti menjadi plat hitam. Gunakanlah mobil itu untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

* Penulis adalah warga Kampung Pineung, Kota Banda Aceh.


Mobil Esemka dan DPRA - Serambi Indonesia

Monday, January 9, 2012

Sensasi Kekerasan Pilkada

Oleh: Helmy N Hakim -

BILA kita menonton infotainment yang ditayangkan di televisi-televisi nasional, sering kita menyaksikan ulah selebritis yang menimbulkan sensasi. Sebagai contoh, ulah Syahrini dengan kata-kata khasnya seperti “alhamdulillah yah” atau penamaan aksesoris dandanannya semacam “Jambul Khatulistiwa” atau bulu mata anti badai. Seringkali kita merasa terhibur jika itu sensasinya lucu, atau kesal bila sensasinya berlebihan, negatif (publikasi foto-foto seronok) atau bahkan norak. Dalam industri hiburan, sensasi para artis memang diperlukan untuk menjaga popularitas untuk tetap eksis di panggung hiburan atau mendongkrak bagi para artis yang sedang redup.

Sensasi terkadang digunakan untuk menyelamatkan nama baik sang artis yang sedang terkena kasus. Misalnya kita masih ingat bagaimana seorang artis asal Aceh yang terkena kasus video porno menggunakan kemampuannya berakting dengan menangis saat diwawancara wartawan, walaupun bahasa tubuhnya menampakkan kebohongan ketika ia menyangkal tuduhan terhadapnya. Dalam kasus lainnya, Dewi Persik dan Julia Perez mendatangi ulama tertentu dan minta didamaikan walaupun bila kita kaitkan dengan rasionalitas, hal tersebut adalah irrasional. Namun demikian, suka atau tidak suka, sensasi telah memberi warna yang memeriahkan jagad panggung hiburan baik di tingkat nasional maupun internasional.

Sensasi bukan hanya milik dunia selebritis. Panggung politik pun seringkali menyuguhkan sensasi yang membuat rakyat tertawa, sedih, simpati bahkan marah. Kita masih ingat bagaimana Menteri Infokom-entah disadari atau tidak-menyalami Michelle Obama. Hal tersebut dianggap tidak sesuai dengan citra islami yang dibangun oleh partainya selama ini. Rakyat Aceh pun takkan pernah lupa dengan sensasi tangisan “cut nyak” Megawati di depan khalayak ramai di Aceh dengan janji takkan menumpahkan darah lagi, yang beberapa saat kemudian diingkari lagi dengan melancarkan Darurat Militer (2003).

Berbeda dengan sensasi para artis, sensasi politik memiliki spektrum yang lebih luas. Pada satu waktu boleh jadi rakyat dibuat marah, bingung pada sensasi yang dibuat oleh aktor-aktor politik, di waktu lain aktor-aktor politik dapat membuat rakyat sedih terharu bahkan simpati. Selain memiliki spektrum yang luas, bentuk-bentuk sensasi politik pun banyak sehingga seringkali membius publik, sehingga mengecohkan dan melupakan kenyataan yang ada di depan mata. Pada masa konflik di Aceh sensasi politik cenderung menggunakan media “propaganda”. Pada peristiwa “pendudukan” Idi Rayeuk selama 12 jam. Yang menggambarkan pada pembaca seolah-olah telah terjadi pertempuran besar-besaran dalam upaya pendudukan kota Idi Rayeuk, walaupun tidak seperti yang dibayangkan.

Terkadang sensasi politik muncul dengan wajah yang begitu mengerikan, konspiratif dan seringkali memakan korban. Sejarah dunia mencatat Perang Dunia I diawali oleh peritiswa penembakan Pangeran Austria Frans Ferdinand oleh Gavrilo Princip, seorang anggota kelompok rahasia Black Hand, kelompok pro kemerdekaan Serbia-Bosnia Herzegovina. sebuah peristiwa pada Februari 1933 pembakaran Gedung Reichstag (Parlemen Jerman) yang di rencanakan oleh Göring dan Goebbels atas persetujuan Hitler dalam rangka menghabisi Partai Komunis Jerman. Setelahnya Hitler mengklaim bahwa Komunis yang melakukan pembakaran yang menghancurkan gedung Reichstag di Berlin, Adolf Hitler memanfaatkan insiden tersebut untuk merengkuh wewenang luar biasa di Jerman. Hitler berhasil meyakinkan Presiden Jerman, Paul von Hindenburg, untuk mengumumkan keadaan darurat. Dengan demikian, kebebasan pribadi yang dilindungi oleh konstitusi ditangguhkan.

Sensasi kekerasan pilkada

Menjelang Pilkada, Aceh pun dikejutkan dengan berita pelemparan Granat di Lampriek dua kali berturut-turut 29 November 2011 dan 1 Desember 2011. Granat pertama jatuh tepat di halaman kantor timses kandidat incumbent dan yang kedua tak jauh dari lokasi tersebut dan memakan tiga korban luka-luka. Peristiwa granat ini mengingatkan saya pada pelemparan granat terhadap almarhum Presiden Soekarno yang disebut Peristiwa Cikini yang secara kebetulan juga terjadi pada bulan November tepatnya 30 november 1957. Peristiwa Cikini menimbulkan korban jatuh meninggal dunia sekitar 9 orang dan sekitar 100 orang lainnya luka-luka berat. Berbagai versi sejarah peristiwa ini memunculkan beberapa pelaku yang berbeda dari perwira militer, terindikasi merupakan pertarungan ideologi, bahkan isu separatisme DI/TII karena pelakunya dituding sebagai anggota DI/TII. Namun yang jelas di akhir cerita, granat Cikini berujung pada pembenaran Soekarno untuk mengeksekusi sahabatnya sendiri Karto Suwiryo tanpa protes berarti.

Kasus terakhir adalah kasus penembakan, yang beberapa di antaranya mengorbankan sipil dari etnis tertentu. Apa pun tujuannya, ini adalah sebuah bentuk provokasi yang serius. Mengingat perang dunia ke I yang juga diawali peristiwa penembakan kepada tokoh politik. Perbedaannya hanya hanya pada target korban. Penembakan terhadap etnis tertentu ini bukan tidak mungkin dapat memicu timbulnya isu SARA dan menjadikan Aceh lebih kacau dari sebelumnya. Granat Lampriek tidak sama dengan granat Cikini karena nampaknya sang pelaku tidak serius menargetkan granatnya. Tiada satu pun korban adalah anggota dari tim sukses kandidat yang kantornya tidak jauh dari lokasi. Begitupun kasus penembakan etnis tertentu tidak sama dengan penembakan Frans Ferdinand, pada kasus penembakan, korban bukanlah pelaku politik. namun yang pasti etnis tertentu tersebut diasumsikan berpotensi sebagai konstituen dari kelompok politik tertentu. Peluang adu domba adalah ketika ternyata etnis yang menjadi korban kemudian terjebak untuk melakukan aksi balas dendam. Jikapun skenario ini ternyata tidak berhasil, tidak menutup kemungkinan akan terjadi peristiwa yang sama mengorbankan orang Aceh sendiri.

Dari berbagai fakta, peristiwa ini memenuhi syarat untuk disebut sebagai “bulsi” penimbulan atau penciptaan situasi, yaitu suatu upaya menciptakan suatu kondisi melalui peristiwa-peristiwa besar atau kecil demi suatu tujuan tersembunyi yang akan menguntungkan kelompok politik tertentu, sayangnya disadari atau tidak kedua jenis teror ini dapat menimbulkan efek yang sama yaitu “perang bodoh” akan kembali berkecamuk di Aceh. Mengingat situasi hari ini, siapa pun dapat memaknai dengan jelas bahwa sensasi kekerasan sangat terkait kepentingan politik pilkada.

Kita berharap agar masyarakat tidak terjebak arus propaganda yang bertujuan menakutkan dan mengingatkan kembali masyarakat pada situasi konflik, apalagi membuat kita melemparkan tuduhan ke sembarang pihak. Dalam konteks pilkada, pertarungan politik adalah hal lumrah, selama tidak ada kekerasan baik yang sebenarnya ataupun pura-pura. Pilkada hanyalah satu hari, jangan kemudian menimbulkan dampak negatif yang lebih lama dari pilkada itu sendiri. Saya teramat yakin kepolisian sudah memiliki cukup data untuk mengungkap kasus kekerasan di Aceh. Hanya saja Pemerintah Pusat harus memberi jaminan politik yang signifikan agar Kepolisian lebih mudah melaksanakan tugasnya.

* Penulis adalah pemerhati sosial politik Aceh

Sensasi Kekerasan Pilkada - Serambi Indonesia

Pembangunan Berbasis Iptek

Oleh: Izarul Machdar -

PERDEBATAN bahwa Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) berkorelasi dengan pembangunan ekonomi suatu kawasan masih saja berlangsung. Hal ini disebabkan tidak adanya suatu teori, penelitian, atau model yang dapat menjelaskan hubungan kedua faktor di atas. Diperlukan suatu pengujian dengan menggunakan metode yang sahih untuk menghasilkan suatu kesimpulan yang akurat tentang arah pengembangan dan aplikasi Iptek yang berkorelasi dengan pertumbuhan ekonomi. Walaupun demikian, sebagian komunitas tetap meyakini bahwa Iptek berkontribusi terhadap pembangunan suatu wilayah. Laporan dari World Development Report satu dekade yang lalu (1998/1999) telah menunjukkan suatu evident (fakta) bahwa pada tahun 50-an negara Ghana dan Korea memiliki pendapatan per kapita yang sama.

Pada awal tahun 90-an pendapatan per kapita Korea 6 kali lebih besar dari Ghana. Dari hasil analisis, kenaikan pendapatan Korea dipengaruhi sebagian oleh penggunaan Iptek di negara tersebut.

Negara-negara yang mengaplikasi Iptek sehingga kini menjadi negara maju dapat diurut adalah Inggris, Prancis, Jerman, Italia, dan Amerika Serikat. Negara-negara ini merupakan pelopor pengembangan industri melalui pengembangan Iptek. Selanjutnya kelompok negara industri yang bergabung adalah negara-negara di Eropa Barat, Kanada, Australia, dan Selandia Baru. Perlu diberi catatan di sini, perkembangan transformasi ekonomi negara-negara tersebut tercatat dalam sejarah sejak abad ke-15 (Inggris) hingga abad ke-19 (Amerika Serikat). Walaupun saat ini (2011) negara-negara tersebut (khususnya kawasan Eropa) mengalami keredupan ekonomi yang ditenggarai karena faktor kesalahan pengelolaan finansial bukan karena kemunduran Iptek. Negara-negara industri baru di Asia seperti Jepang, Korea, Taiwan, Hongkong, dan Singapura lahir karena diyakini juga telah menerapkan Iptek secara luas di berbagai sektor yang mendukung pembangunannya.

Strategi di Aceh
Kita mungkin setuju, bahwa pembangunan ekonomi di Provinsi Aceh secara nyata baru dapat dirasakan pasca terjadinya gempa dan tsunami pada Desember 2004. Jadi saat ini (baru) berjalan selama 7 tahun. Suatu durasi sejarah yang relatif singkat untuk mengukur kemajuan pembangunan. Walaupun diyakini masa-masa kemakmuran Aceh pernah dilalui pada masa Iskandar Muda (1607-1637), tetapi kemajuan tersebut tidak dalam konteks dengan perkembangan Iptek. Pembangunan ekonomi Aceh yang berlangsung selama 7 tahun belakangan ini diwujudkan lebih banyak melalui eksploitasi sumber daya alam dan lingkungan hidup, mencakup minyak bumi dan gas, pertambangan mineral, pertanian dan perkebunan. Pembangunan yang berorientasi pada eksploitasi sumber daya alam dan mengabaikan norma dan kaidah kelestarian, konservasi, dan keberlanjutan pada akhirnya menimbulkan dampak negatif yang tidak dapat dihindarkan berupa degradasi kualitas sumber daya alam.

Upaya-upaya pemanfaatan sumber daya alam untuk mendukung pembangunan agar rakyat menjadi makmur dan sejahtera merupakan salah satu strategi di dalam mencari sumber-sumber pendapatan wilayah. Walaupun demikian, pembangunan yang membawa risiko lingkungan rusak sedapat mungkin dihindari melalui penerapan konsep pembangunan yang berkelanjutan (eco-development). Tuntutan eco-development hanya dapat dilakukan melalui konsep pembangunan berbasis Iptek (science & technology-based development). Proses pembangunan dilakukan melalui perencanaan yang matang, yang didukung oleh data-data ilmiah dan penerapan metode-metode yang diyakini sesuai dengan konteks lokal.

Fakta sejarah memperlihatkan bahwa, pembangunan di negara-negara industri yang telah disebut di atas, kekuatan penggerak pembangunannya dimulai dengan mempelajari dan belajar dengan seksama dari permasalah sendiri dan secara bijak melihat kesalahan dan strategi wilayah lain sebagai bahan referensi di dalam pembuatan kebijakan dan keputusan. Contoh dapat dilihat bagaimana Korea dan Taiwan mengembangkan industri elektronikanya. Negara-negara ini dalam mengembangkan industrinya mengadopsi road map pengembangan industri informasi negara Jepang, tetapi tetap menggunakan konteks lokal dan mempelajari kesalahan-kesalahan Jepang dalam pengembangan industrinya. Apa yang dapat dilihat, Jepang memerlukan 100 tahun untuk mencapai status negara industri, sedangkan Korea dan Taiwan hanya membutuhkan lebih kurang 25 tahun (seperempat durasi yang dibutuhkan Jepang) untuk mencapai status tersebut (UN, 2000).

Dalam konteks Aceh, tentunya kita harus memilih sektor apa yang dapat dijadikan sebagai salah sektor industri andalan dan mengaplikasi Iptek terkini berbasis kemampuan lokal (SDM dan SDA). Sumber daya alam pertanian di Aceh (salah satu contoh) memiliki potensi yang dapat dikembangkan menjadi salah satu model eco-development. Dalam rangka menentukan peran Iptek di dalam pengembangan agroindustri di Aceh, tentunya harus didefinisikan terlebih dahulu konsep agroindustri berkelanjutan dan di mana Iptek itu akan berperan. Negara Thailand adalah wilayah tetangga yang dapat dijadikan wilayah referensi pengembangan agroindustri berbasis Iptek. Tanpa meniru apa yang terbaik bisa menuai yang terburuk. Pengembangan agroindustri berbasis sawit saat ini di Aceh bisa kita jadikan suatu contoh kebijakan yang bisa dikatakan kebablasan. Etika kebijakan lingkungan sama sekali tak teradopsi, sehingga banyak konflik timbul sesudahnya.

Solusi
Lembaga Penelitian dan Pengembangan (R&D) adalah bagian paling kruisial di dalam pengembangan Iptek dalam melahirkan inovasi di suatu wilayah. Lembaga ini akan memberikan kontribusi penting di dalam mengkaji dan melakukan transformasi teknologi termasuk kapasitasnya di dalam melakukan adaptasi, distribusi, dan sosialisasi teknologi baru ke masyarakat pengguna. Lembaga ini juga diharapkan membantu memecahkan masalah proses produksi untuk meningkatkan nilai kompetitif yang tinggi. Membangun Dewan Riset Daerah adalah solusinya. Dewan ini juga diharapkan dapat melahirkan agenda riset daerah yang menjadi acuan pelaku riset (peneliti). Selanjutnya, peran lembaga-lembaga pendidikan di dalam aplikasi IPTEK menjadi sangat penting. Untuk itu, kurikulum yang menekankan praktek magang dan pelatihan teknologi lebih ditekankan dari pada kurikulum hanya berorientasi akademik-teoritis. Mengadopsi kedua metode kurikulum tersebut memang paling baik seperti yang dilalukan di negara Jepang dan Korea untuk melengkapi kompetensi tenaga kerja dari lembaga pendidikan. Karena perkembangan IPTEK yang begitu cepat dan terus-menerus, maka sistem pendidikan diarahkan pada metode belajar seumur-hidup.

* Penulis adalah Dosen Fakultas Teknik, Unsyiah


Pembangunan Berbasis Iptek - Serambi Indonesia

Asal-usul Bahasa Aceh

Oleh: Teguh Santoso -

Bahasa Aceh merupakan salah satu bahasa daerah yang ada di wilayah Provinsi Aceh. Berdasarkan pemetaan bahasa yang dilakukan sejak tahun 2008 oleh Balai Bahasa Banda Aceh, dapat diketahui bahwa bahasa daerah yang ada di Provinsi Aceh sekitar 8 bahasa. Pemetaan bahasa yang dilakukan tersebut menggunakan metode dialektometri yang dapat mengetahui secara pasti wilayah pakai sebuah bahasa atau kantong-kantong pemakai bahasa tertentu. Bahasa Aceh merupakan salah satu bahasa dengan jumlah penutur yang banyak. Wilayah pakai bahasa Aceh meliputi hampir sepanjang wilayah pantai timur Provinsi Aceh mulai Langsa sampai dengan Banda Aceh di ujung utara. Jumlah penutur bahasa Aceh di wilayah pantai barat Aceh juga tidak kalah banyaknya. Mulai dari Lhoong sampai dengan Blang Pidie. Oleh karena itu, wajar jika bahasa Aceh mendominasi di dalam pemerolehan bahasa masyarakat di Aceh.

Akan tetapi, sampai dengan saat ini masih sedikit masyarakat yang mengetahui secara pasti negeri asal bahasa Aceh tersebut. Secara struktur, bahasa Aceh memiliki banyak keunikan. Salah satu keunikan bahasa Aceh yakni pada aspek fonologi atau bunyi bahasa. Bahasa Aceh memiliki jumlah fonem yang lebih banyak jika dibandingkan misalnya dengan bahasa Indonesia. Keunikan lain misalnya pada aspek kosakata. Bahasa Aceh memiliki kosakata dengan suku kata yang pada umumnya terdiri atas satu sampai dengan dua suku kata. Singkatnya, kosakata bahasa Aceh terlihat begitu simpel alias sederhana, contoh ie untuk ‘air’; bu bermakna ‘nasi’; u artinya ‘kelapa’, dan masih banyak lagi hal-hal yang menunjukkan kecenderungan seperti itu.

Secara geografis, wilayah Aceh berada di Pulau Sumatera yang tidak terlalu jauh dengan negeri asal bahasa Indonesia yaitu bahasa Melayu. Sampai dengan saat ini, teori bahasa masih mempercayai bahwa bahasa Melayu yang dianggap standar dan menjadi embrio lahirnya bahasa Indonesia ialah bahasa Melayu yang berada di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. Meskipun akhir-akhir ini muncul teori baru bahwa negeri asal bahasa Indonesia adalah pedalaman Pontianak, di Provinsi Kalimantan Barat. Kedekatan geografis tidak lalu memunculkan kesamaan struktur antara bahasa Aceh dan bahasa Melayu, meskipun keduanya masuk dalam satu rumpun bahasa Austronesia. Lalu kira-kira darimana bahasa Aceh itu berasal?

Beberapa pendapat yang bersifat plesetan muncul ketika penulis mencoba menanyakan kepada penutur bahasa Aceh, kira-kira darimana asalnya? Inilah yang tampaknya umum diketahui oleh masyarakat yang memplesetkan ACEH dengan Arab, Cina, Eropa, dan Hindia (India). Benarkah demikian? Perlu diketahui bahwa sebuah bahasa tidak dapat selamanya otonom atau mandiri dalam hal kosakatanya. Tentu ia akan menyerap atau meminjam istilah/kosakata dari bahasa lain. Tampaknya hal ini yang menjadi argumen pendapat ini. Memang, di dalam bahasa Aceh dapat kita temukan kosakata bahasa Arab, misalnya kata sikin yang mempunyai makna ‘pisau’. Kata sikin dengan makna yang sama juga ada di dalam bahasa Arab. Akan tetapi, pembuktian secara ilmiah perlu dilakukan terutama untuk menghitung persentase kosakata bahasa Arab yang ada di dalam bahasa Aceh. Hal serupa juga untuk kata get yang berarti ‘baik’ dalam bahasa Aceh. Sebagian orang lalu berpendapat bahwa kata tersebut berasal dari bahasa Inggris karena memiliki korelasi dengan kata good yang juga berarti ‘baik’. Hal-hal seperti itu hampir pasti terjadi pada setiap bahasa daerah. Apalagi perbedaan budaya yang lalu menyebabkan peminjaman kosakata dari budaya lain di sebuah penutur bahasa yang berbeda. Pada sisi ilmiah, kekerabatan bahasa lebih memungkinkan apabila bahasa-bahasa tersebut berada dalam satu rumpun bahasa yang sama. Sekadar pembaca ketahui, bahasa Aceh termasuk rumpun Austronesia, bahasa Cina termasuk rumpun bahasa Sino Tibet, sementara bahasa Arab termasuk rumpun Afro Asiatik/ Semit; bahasa Inggris termasuk rumpun Indo Eropa, dan bahasa India termasuk rumpun Dravida. Jelas bahwa setiap bahasa yang diplesetkan tadi memiliki perbedaan rumpun. Oleh karena itu, sangat mustahil apabila menjadikan keempat wilayah (Arab, Cina, Eropa, Hindia) sebagai negeri asal bahasa Aceh.

Pendapat yang agak ilmiah tentang negeri asal bahasa Aceh mengatakan bahwa bahasa Aceh berasal dari Kerajaan Campa, yang saat ini masuk dalam wilayah negara Vietnam. Pendapat ini didasarkan atas kesamaan kosakata di antara bahasa Aceh dengan bahasa di Kerajaan Campa tersebut. Pendapat ini ditulis dalam sebuah buku dengan penjelasan pada sisi ilmiah yang sangat terbatas. Salah satu sisi yang disebutkan di dalam buku tersebut mengenai sisi historis. Dimungkinkan bahwa dahulu terjadi proses migrasi penduduk dari Kerajaan Campa di Vietnam tersebut yang akhirnya mereka sampai di semenanjung Sumatera, yaitu di Aceh saat ini. Akan tetapi, pendapat kedua ini perlu pembuktian lebih lanjut. Pembuktian tersebut untuk menguji dugaan sementara (hipotesis) tentang benar tidaknya kosakata bahasa Aceh memiliki banyak kemiripan dengan kosakata di Kerajaan Campa, Vietnam tersebut. Pengujian tersebut akan lebih sahih apabila menggunakan metode ilmiah.

Linguistik atau ilmu bahasa memiliki salah satu bidang terapan yaitu Linguistik Bandingan. Linguistik bandingan terbagi ke dalam dua jenis yaitu Linguistik Historis Komparatif dan Linguistik Historis Tipologis. Pendapat tentang hubungan kekerabatan bahasa Aceh dengan bahasa di Kerajaan Campa, Vietnam, dapat ditelusuri dengan melakukan perbandingan kosakata. Saat ini yang paling populer untuk melakukan perbandingan yaitu berupa daftar kosakata dasar. Kosakata dasar yang sering digunakan untuk perbandingan bahasa yaitu 800 kosakata dasar yang dibuat oleh seorang bernama Swadesh. Kosakata dasar ini meliputi berbagai ranah, misalnya pertanian, nelayan, atau peralatan-peralatan yang mencakup bidang tertentu. Bidang nelayan misalnya, perbandingan dilakukan terhadap nama-nama ikan atau nama-nama kapal nelayan beserta alat tangkap yang biasa digunakan oleh mereka. Masih banyak ranah lain tentang bahan untuk perbandingan bahasa yang terdapat di dalam daftar 800 kosakata dasar tersebut. Sayangnya, sampai saat ini hal tersebut belum dilakukan secara komprehensif.

Apabila secara ilmiah perbandingan bahasa telah dilakukan, langkah selanjutnya dapat dilakukan dengan mencari aspek histori terjadinya kekerabatan tersebut. Artinya, migrasi penduduk yang terjadi pada masa lalu harus dirunut sejarahnya. Apakah migrasi dari Vietnam ke Aceh? Atau sebaliknya. Dukungan penelitian pada aspek historis ini akan semakin menguatkan adanya gerak perpindahan penduduk beserta bahasanya dari satu wilayah ke wilayah yang berbeda. Apabila hal ini ke depan dilakukan secara konsisten, bukan tidak mungkin kita akan segera tahu tentang negeri asal bahasa Aceh. Langkah selanjutnya adalah menentukan dialek standar bahasa Aceh. Yang manakah dialek bahasa Aceh yang dianggap representatif alias mewakili dialek yang ada?

* Penulis adalah pereksa bahasa, kepala balai bahasa Banda Aceh

Asal-usul Bahasa Aceh - Serambi Indonesia

Wednesday, January 4, 2012

Berubah, Haruskah Menunggu Momentum?

Oleh Ahmad Arif -

KITA sudah memasuki tahun 2012 dalam penanggalan Masehi. Kita pun sudah memasuki tahun baru Islam, 1433 Hijriah. Tahun baru biasanya selalu diiringi dengan optimisme perubahan menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya. Tahun baru biasanya ditandai dengan semangat baru, semangat untuk berubah menjadi lebih baik, semangat untuk meraih segala impian karena selalu ada harapan baru.

Tahun baru juga biasanya diawali dengan melakukan refleksi tahun sebelumnya. Tidak ada yang salah, karena memang begitulah seharusnya. Kita selalu punya waktu untuk merenung sejenak, untuk evaluasi. Namun, untuk melakukan evaluasi dan perubahan, haruskah kita menunggu datangnya tahun baru?

Berubah adalah kosa kata kehidupan. Sebab siapa yang tidak berubah tidak akan bisa melanjutkan kehidupan, begitulah faktanya. Siapa yang berhenti bernafas akan mati. Nafas kita hirup dengan gratis, tapi polusi harus dihindari dan dicegah dengan melakukan aksi. Dalam islam tujuan hidup lebih banyak ditekankan pada aspek fungsional, adapun menyembah Nya merupakan tujuan konsekuensial (tuntutan keimanan) yang melekat pada diri setiap kita dalam kondisi apa pun.

Dengan kata lain, tujuan ideal yang ingin dicapai dalam kehidupan seorang muslim disebut cita-cita fungsionalnya, yaitu keadaan di mana kita memiliki fungsi maksimal bagi kehidupan, dalam bentuk apapun. Dengan demikian, kita tidak akan meratapi apappun status kita secara formal. Sebaliknya, kita akan memiliki kebesaran hati atas profesi apapun yang dilakoni dan terus terdorong untuk terus memberi.

Sementara menjadi bermanfaat merupakan aset fungsional setiap kita. Inilah yang dimaksudkan Rasulullah dalam haditsnya, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling memberi manfaat bagi manusia lainnya”. Itu juga sebabnya kenapa Al Quran memerintahkan untuk rukuk dan sujud yang diiringi dengan perintah “dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu beruntung” (QS. Al Hajj: 77).

“Dalil akal, nash, naluri dan pengalaman berbagai ummat menunjukkan bahwa bertaqarrub kepada Allah dan berbuat kebajikan serta berderma kepada sesama makhluk adalah penyebab utama yang bisa mendatangkan kebaikan”, demikian Ibnul Qayyim menjelaskan ayat tersebut.

Perubahan vs Momentum
Tidak sedikit di antara kita yang masih melakukan penyimpangan-penyimpangan dalam kehidupan dalam berbagai dimensinya dengan beralasan; “nantilah waktu tahun baru saja berubahnya” atau “nanti setelah haji” atau “nanti setelah kaya” dan seterusnya. Kalimat-kalimat seperti itu yang sering digunakan untuk mentoleransi keterlambatan dalam melakukan sebuah kewajiban.

Berubah itu tidak harus menunggu momentum karena lima pertimbangan. Pertama, hanya momentum yang bertemu kesiapan yang melahirkan keberuntungan. Seberapa pun besar kesempatan yang kita dapatkan dan seberapa pun berharga momentum itu, serta seberapa pun keinginan kita mendapatkannya, jika kita tak pernah memiliki kesiapan dan persiapan, maka momentum itu hanya akan berlalu, hilang seperti asap yang tertiup angin.

Kedua, momentum hanya memberi energi gerak. Biasanya, ketika momentum itu datang, kita hanya bersemangat di awal. Setelah itu, keadaan kembali seperti semula; kehilangan semangat dan selera. Di sinilah korelasinya antara momentum dan kesinambungan pembelajaran. Pembelajaran tanpa momentum tidak membuat orang bergerak, sebaliknya momentum tanpa pembelajaran secara konsisten pasti berumur pendek.

Ketiga, kadang momentum itu tidak lebih dari sekadar seremonial. Janji pada diri sendiri atau pada publik untuk melakukan perubahan yang memberikan banyak manfaat acapkali hanya sebatas seremonial.

Lihatlah saat pemilu atau pilkada, harapan melaksanakan perhelatan itu menjadi momentum akan lahirnya pemimpin baru yang lebih baik dan hadirnya perubahan keadaan yang lebih baik pula. Mungkin di sebagian daerah memang ada yang sesuai harapan, tapi umumnya tidak; hasil yang diperoleh berbanding terbalik dengan biaya yang dikeluarkan; bahkan tidak jarang justru melahirkan kerusakan baru.

Keempat, momentum yang dimaknai secara keliru. Seringkali momentum hanya kita maknai dari acara-acara seperti ulang tahun, bulan Ramadhan, peringatan tsunami, berhaji, dan sebagainya. Sementara hentakankan-hentakan keadaan, situai genting dan saat-saat penting di luar itu sering kita anggap hanya sebagai peristiwa biasa. Jika kita hanya mengandalkan momen-momen seremonial tersebut, maka sangat sedikit momentum yang dimiliki.

Kelima, mensinergikan semua dimensi dalam sebuah momentum. Dalam ilmu fisika, kata momentum digunakan sebagai sebuah besaran yang merupakan hasil kali dari massa dan kecepatan gerak sebuah benda. Sedang dalam keseharian kita, momentum diartikan sebagai masa atau waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu.

Jika dua pengertian itu digabungkan, maka momentum memiliki tiga dimensi; waktu, bobot, dan kecepatan. Ketiga dimensi itu jika kita perhatikan sangat berkaitan erat dengan rahasia kesuksesan seseorang atau bangsa dalam mengubah diri, mencapai prestasi, melakukan kerja-kerja besar yang juga memberi manfaat besar. Mari perhatikan cerita sukses Jepang misalnya, Cina, atau India. Juga cerita sukses aneuk nanggroe baik di dalam maupun di luar Aceh.

Agar energi momentum itu tidak sia-sia, maka hal-hal berikut perlu dilakukan. Pertama, lakukan saja dahulu perubahan itu, momentum akan menguatkannya. Menunggu momentum merupakan tindakan yang tidak bijak, karena akan banyak waktu yang terlewatkan percuma.

Kedua, ketekunan menciptakan momentum. Kesuksesan tidak hanya terjadi tetapi harus menjadi sesuatu yang diraih dengan kerja keras dan pencarian. Ketiga, antusiasme menjadikan hidup semua seperti momentum. Lihatlah lebah yang beban fisiknya lebih besar daripada sayapnya, tapi tetap bisa terbang. Keempat, keyakinan bahwa perubahan itu hanya atas izin Nya yang maha kuasa setelah memaksimalkan ikhtiar.

Sebagai penutup, hidup itu ibarat buku tulis yang kosong. Sampul depan adalah tanggal lahir. Sampul belakang merupakan tanggal pulang. Tiap lembarnya adalah hari-hari dalam kehidupan. Ada buku tulis yang tebal, ada pula yang tipis. Tapi hebatnya, seburuk apa pun halaman sebelumnya, selalu tersedia halaman berikutnya yang bersih dan masih baru. Dus, selamat berjuang mengisi lembar demi lembar buku tulis kehidupan 2012.

* Penulis adalah mantan pengurus pusat Ikatan Mahasiswa dan Pemuda Aceh (IMAPA) Jakarta


Berubah, Haruskah Menunggu Momentum? - Serambi Indonesia

Tahun Rekonsiliasi

Oleh Teuku Kemal Fasya -

SECARA keseluruhan, tahun 2011 dapat disebut sebagai vivere pericoloso atau hari-hari penuh tantangan dan kerumitan bagi perjalanan hidup politik Aceh. Jika dibuka kembali dokumen sejarah, hampir sepanjang tahun lalu pemberitaan di Aceh dipenuhi oleh konflik Pilkada, yang salah satunya dipicu oleh kesempatan calon independen untuk maju dalam momentum demokrasi lokal, pasca-judicial review Mahkamah Konstitusi (MK) pada 30 Desember 2010.

Kerasnya penolakan Partai Aceh (PA) terhadap judicial review pasal 256, jika diurai berhubungan dengan sejarah “konflik personal” di antara komunitas GAM itu sendiri-membuat konstruksi konflik menjadi terinstitusionalisasi, baik di tingkat lokal (KIP, DPRA, Pemerintahan Aceh) dan nasional (KPU Pusat, Kemenkopohukam, Kemendagri), dan berkomplikasi pada dua arus: Pilkada sesuai jadwal atau Pilkada tunda. Beruntung-berdasarkan hasil penelitian Kemitraan/Partnership, konflik pilkada itu tidak merembes menjadi anarkhisme sosial yang merugikan perdamaian Aceh.


Tahun Rekonsiliasi - Serambi Indonesia

1000 Sandal untuk Aal

Oleh M.A. Pamulutan -

DI akhir tahun 2011 yang lalu, belum hilang dalam ingatan kita tentang adanya kasus seorang siswa SMK berusia 17 tahun bernama Aal di Palu yang didakwa jaksa melanggar pasal 362 KUHP tentang pencurian dan diancam dengan pidana 5 tahun penjara karena mencuri sandal jepit milik seorang polisi, kini ia tengah menjalani persidangan di PN Palu yang menyita perhatian masyarakat banyak.

Kasus yang bermula pada November 2010 lalu ketika Aal bersama temannya lewat di Jalan Zebra di depan rumah kost Briptu Ahmad Rusdi (AR) Aal melihat ada sandal jepit yang kemudian menggerakkan Aal untuk mengambilnya. Selang beberapa bulan kemudian (Mei 2011), Briptu AR memanggil Aal dan temannya untuk diinterogasi. Namun selain diinterogasi, Aal juga dipukuli hingga babak belur.

1000 Sandal untuk Aal - Serambi Indonesia

Kemenag Rawan Korupsi?

Oleh Muhammad Yakub Yahya

PENGHUJUNG tahun lalu, di sela-sela doa dan kenduri untuk almarhum Abu kami, seorang pengacara yang ikut hadir dan diskusi, memancing sekaligus ‘menguji’ emosi saya, “Apa benar Kemenag rawan korupsi?” Sebagaimana juga pembelaan dari instansi lain, jika institusinya `dihina orang’, saya sebagai salah satu staf yang terus terang lebih lama hidup bukan sebagai PNS, kerja lebih lama tidak di bawah langsung Kemenag, dengan alasan klise (klasik) coba beranalogi, “Bagaikan kain putih, jika ternoda sedikit saja, Kemenenag itu kelihatan sekali belangnya. Sedangkan institusi lain, bagaikan kain berwarna warni, jika ternoda walaupun belepotan, tak kontras kelihatannnya.”

Kemenag Rawan Korupsi? - Serambi Indonesia

Menyoal Kontribusi Guru Besar

Oleh Arkin -

UNIVERSITAS Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh kembali mengukuhkan tiga guru besar. Mereka adalah Prof Dr Ir Khairil Daud MT (Fakultas Teknik), Prof Dr Raja Masbar M.Sc (Fakultas Ekonomi) dan Prof Dr Ir Husaini MSc (Fakultas Teknik). Rektor Unsyiah Prof Dr Darni M Daud mengatakan, dengan dikukuhnya ketiga guru besar itu, maka Unsyiah telah memiliki 43 guru besar aktif (Serambi, 15/12/2011). Sedangkan IAIN Ar-Raniry saat ini memiliki 17 orang guru besar aktif. Jadi, Aceh melalui kampus “Jantong Hatee” kini memiliki 60 orang guru besar.

Menyoal Kontribusi Guru Besar - Serambi Indonesia

Tata Kelola Syariah Islam

Oleh Marthunis Muhammad -


SEBELAS tahun telah berlalu sejak pemberlakuan syariat Islam ditetapkan oleh Qanun 5 Tahun 2000. Ibarat seorang anak, seharusnya si buah hati sudah mulai terbiasa dengan ibadah dan perilaku shalih karena ajaran dan didikan yang diperoleh sejak dari kelahirannya dan diberi hukuman apabila meninggalkan kewajiban agamanya. Masih teringat suka ceria ketika mendengar berita negeri syariah telah dilahirkan, optimisme membuncah dan bangga akan kabar itu. Terbayang akan akhlak santun dan senyuman si anak yang berpakaian menutup aurat secara sopan dan elegan, selalu bergegas ke masjid dan meunasah saat azan berkumandang dan taushiyah dan toleransi dalam bermasyarakat.


Tata Kelola Syariah Islam - Serambi Indonesia

Ku’eh

Oleh Hasanuddin Yusuf Adan -


ISTILAH ku’eh bukanlah suatu perkataan asing buat orang Aceh yang hidup zaman dulu atau yang hidup di kampung-kampung dalam masyarakat Aceh yang masih tulen. Kalau kita mau cocokkan istilah ini dengan istilah bahasa Melayu ia sederetan dengan perkataan dengki, khianat, cemooh, dendam, menggerogoti, dan menghina. Namun semua istilah Melayu tersebut tidaklah singkron seratus persen dengan istilah ku‘eh karena ku‘eh mengandung makna yang amat mendalam terhadap perbuatan seseorang sehingga dapat mengorbankan orang lain serta pelaku ku‘eh sendiri.

Ku’eh - Serambi Indonesia

Memajukan Wisata Tsunami

Oleh Rahmadhani -

PERISTIWA gempa dan tsunami berkekuatan 8.9 skala Richter yang pernah menimpa masyarakat Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 telah berlalu tujuh tahun lamanya yang masih meninggalkan berbagai kenangan dan cerita duka. Kenangan duka ini tidak akan pernah dilupakan sepanjang hidup masyarakat, khususnya mereka yang langsung mengalami kejadian tersebut. Sebaliknya, semangat kehidupan untuk bangkit kembali dan menatap masa depan yang lebih baik akan terus dilakukan pasca bencana yang pernah terjadi di abad modern ini.

Memajukan Wisata Tsunami - Serambi Indonesia

Haul Sultan Iskandar Muda

Oleh Yusra Habib Abdul Gani -

TEPAT pada 27 Desember 2011, 375 tahun sudah Iskandar Muda meninggalkan kita. Figur politisi Aceh yang ulung di abad ke-16 ini, tetap bersemi dalam sanubari orang Aceh. Walaupun pakar sejarah Aceh tidak lengkap mengisahkan riwayat hidup beliau, tetapi beruntung “La Grand Encyclopedie. An authoritative 17th century French map”, berhasil menunjukkan peta wilayah kedaulatan Royame D’Achem (Kingdom of Acheh) semasa Iskandar Muda berkuasa, meliputi: Sumatera, Tanah Semenanjung Malaya, hingga ke Kalimantan (Borneo) Barat dan Jawa Barat; yang diterbitkan oleh pemerintah Perancis.


Haul Sultan Iskandar Muda - Serambi Indonesia

Be our fan on Facebook